Sahabat, tolong perhatikan tiap perkataan anda. Saya malu dan kecewa jika anda selalu termakan omongan anda sendiri.
- dari sahabatmu tanpa meminta dilaksanakan, hanya nasihat untuk dipahami-
Sahabat, tolong perhatikan tiap perkataan anda. Saya malu dan kecewa jika anda selalu termakan omongan anda sendiri.
- dari sahabatmu tanpa meminta dilaksanakan, hanya nasihat untuk dipahami-
Baru saja melihat video lama hadiah ulang tahun dari seorang teman berisi ucapan-ucapan dari sahabat dan teman. Sedih sudah pasti, namanya juga teman-teman lama sudah sangat jarang bertemu. Tapi lebih sedih karena mereka semua mengucapkan impian dan harapan mereka untuk saya. Di satu sisi saya sedang menggantungkan diri pada harapan yang saat ini belum jelas apa itu.
Mungkin mata diri ini masih terlalu naif, melihat hal hanya dari sudut pandang diri sendiri tanpa melihat masih ada dia-dia-dan dia di sudut lain yang juga melihat.
Usia bertambah, lingkungan bertambah luas, perilaku manusia sekeliling pun berubah, bekerjasama merubah sudut pandang dari sebuah otak di kepala. Lelakon sehari-hari yang dijalani pun terus berubah, menuju sebuah lakon baru baik dan buruk, hingga tiba pada satu lakon di ujung sana yang belum tentu sesuai yang diimpikan.
“Aku ingin jadi dokter hebat”, ucap seorang teman kecil kala itu. Namun apa yang terjadi, dunia belum memihak padanya mungkin. Kulihat ia hanya menjadi seorang spg cantik penjaja kosmetik di mall dekat rumah. Beda lagi dengan seorang saudari- cantik, baik, pintar, ya pokoknya idaman para pria- nasibnya kurang mujur awalnya, gagal di berbagai ujian masuk perguruan tinggi dan akhirnya terdampar di salah satu akademisi yang tak pernah dipikirkannya. Tapi lihat sekarang, semakin cantik, berpikiran ke depan, dan akan segera menjadi seorang pramugrari katanya di maskapai penerbangan milik Korea.
Aku yang lain mungkin punya lakon-lakon yang ingin diperankannya, tapi entah bagaimana caranya. Ya, saya sendiri punya sebuah lakon yang ingin diperankan tapi jauh di dalam hati ‘bagaimana bisa’ yang ada. Kata seorang bapak “sekolah yang rajin, solat yang taat, dan banyak berdoa biar tercapai semua impiannya”. Terngiang selalu memang semua nasihat itu walau seringkali lupa bahkan hampir selalu lupa dilaksanakan. Ampun selalu terucap saat jatuh dan kembali teringat semua nasihat itu.
Diingat kembali, saya-anda-kalian-dan siapapun punya lakon impian. Paling tidak, saya tidak ingin hanya menjadi seseorang yang setiap pagi hanya melongok keluar jendela kamar dan melihat lakon impian saya sedang diperankan orang lain. Tragis. Tapi itu bisa terjadi.
Tim : Abdul Said Ahtar, Bellarida Febriyanti, Diba Aththaariq, M. Fadhil Fachriansyah, Prysha Novika
Bermain. Kata tersebut acap kali diidentikkan dengan hal-hal yang konyol dan hanya dilakukan oleh anak ingusan – sesuatu yang tidak dilakukan orang dewasa. Padahal, melalui bermain seseorang…
Manusia memang makhluk sosial, tetapi berbeda dengan makhluk hidup lainnya, manusia tetap butuh ruang dan waktu pribadinya. Sendiri.
“Selalu ada kesempatan kedua untuk setiap hal.”
Bukan, tepatnya selalu ada kesempatan yang lain. Karena tidak pernah ada hal yang sama untuk setiap hal yang ada.